dunia ini
dibanding akhirat
ibarat seseorang
yang mencelupkan
jarinya ke laut.
Air yang tersisa di jarinya
ketika diangkat
itulah nilai dunia.”
(HR. Muslim)
Saudaraku yang di
rahmati Allah,
B
|
etapa kecilnya
nilai dunia ini. Ia pun tidak lebih dari setetes air yang ada di lautan yang
luas. Namun tidak sedikit orang-orang yang justru menilai bahwa dunia yang
kecil harganya ini malah lebih mahal dibandingkan kehidupan di akhirat kelak.
Banyak orang-orang yang menukar akhirat hanya karena kepentingan dunia semata.
Mereka terlena dengan kenikmatan-kenikmatan di dunia ini yang hanya sesaat,
yang tidak kekal, dan hanya merupakan kenikmatan yang semu. Allah Swt berfirman:
“Katakanlah wahai Muhammad! Kesenangan dan kemewahan
hidup dunia itu sangat sebentar, sedang kehidupan akhirat, lebih baik bagi
orang yang taqwa.”
(Q.S
An-Nisa 77)
Rasulullah Saw pun
bersabda “Demi Allah, dunia ini dibandingkan akhirat ibarat seseorang yang
mencelupkan jarinya ke laut. Air yang tersisa dijarinya ketika diangkat itulah
nilai dunia.” (HR. Muslim). Pada hadits tersebut Rasulullah Saw bersaksi
dengan nama Allah bahwa dunia ini begitu kecil nilainya dibandingkat akhirat,
sangat kecil sekali. Begitulah nilai kehidupan di mata Rasulullah Saw.
Allah Swt
berfirman dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah pernah bersabda, “Seandainya
dunia itu ada nilainya di sisi Allah bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun,
tentu Dia tidak akan sudi memberi minum kepada orang kafir meskipun seteguk
air.” (HR. Tirmidzi). Allah Swt pun menjelaskan melalui Rasul-Nya, Dia
kembali menegaskan, bahwasanya dunia ini
benar-benar tiada nilai-Nya dimata Allah. Hadits ini menjelaskan bahwa rezeki
dan kebahagian dunia juga diberikan oleh
Allah kepad orang kafir maupun fasik, bahkan kita tahu bahwa mereka malah
diberikan lebih banyak dibandingkan yang diberikan kepada orang yang sholeh.
Hal ini tentu saja menggambarkan begitu tidak ada artinya dunia dibandingkan akhirat. Namun banyak manusia yang belum menyadari
semua itu, mereka malah terjebak dalam kenikmatan-kenikmatan dunia yang sangat
menggiurkan. Mereka mati-matian mengejar kenikmatan-kenikmatan yang hanya
sementara itu. Mau berapa juta triliun pun uang yang dikejar, mau sebanyak
apapun berlian dan emas yang digali, sesungguhnya itu hal sangat mudah bagi
Allah untuk memberikannya. Namun mau dibawa kemana semua itu? Pada akhirnya pun
kita akan mati tanpa membawa sepeserpun dari harta itu.
Allah Swt
berfirman :
“Tapi kalian lebih
mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih
kekal.” (Q.S Al-A’la 16-17)
Allah Swt juga
berfirman, “Apa-apa yang ada pada sisi kalian( yang menjadi milik kalian di
dunia ini), akan habis binasa, dan apa-apa yang ada di sisi Allah (di akhirat
kelak) tetap kekal.” (Q.S An-Nahl 96)
Allah Swt
menciptakan dunia dan seisinya hanyalah sebagai
sarana untuk manusia. Atau sebagai pelayan manusia. Seharusnya manusia
menggunakan sarana yang diberikan oleh Allah ini sebagai penunjang untuk
beribadah kepada-Nya. Begitulah yang seharusnya, manusia bertindak sebagai
majikan sedangkan kekayaan duniawi dan seisinya
adalah sarana dan pelayannya. Namun, melihat kondisi yang saat ini
terjadi, banyak manusia yang malah diperbudak oleh kenikmatan-kenikmatan
duniawi, apakah pantas seorang majikan diperbudak oleh pelayannya? Sungguh rendah dan hinalah manusia apabila ia di perbudak
oleh hal-hal duniawi. Sebagai bukti bahwa dunia dan seisinya ini hanya sarana
dan pelayan saja adalah bahwa bukankah Allah menciptakan makanan untuk menutupi
rasa lapar hamba-hamba-Nya. Pakaian hadir sebagai pelindung tubuh manusia,
rumah, uang dan lain sebagainya hanya sebagai sarana atau fasilitas untuk kita.
Akan tetapi malah banyak manusia yang salah menilai, mereka malah menganggap
dunia itu segalanya. Ketika manusia mulai menuhankan dunia, maka kebahagiaanpun tidak akan bisa diraihnya.
Seperti yang kita tau, kita banyak melihat dan menemukan orang-orang yang kaya
raya namun hidup mereka tidak tenang, mereka selalu dalam kegelisahan, dan tidak
bahagia.
Imam Ibnul Qayyim
menguraikan, “Bagaimana orang yang berakal mau menjual surga dan segala isinya
dengan nafsu syahwat yang kenikmatannya hanya sebentar ?”. seorang zahid
bernama Yahya bin Mu’adz pun berkomentar tentang hal ini, ia mengatakan
“Pembangkang terhadap Allah itu tidak mulia dan mengutamakan dunia atas akhirat
itu adalah tidak bijaksana.” Maksudnya adalah karena orang yang hina dan bodoh
selalu melihat pada masalah syahwat saja, mereka hanya memikirkan
kesenangan-kesenangan yang mereka lakukan, akan tetapi mereka tidak memikirkan
akibat-akibat dari apa yang mereka lakukan di kemudian hari. Abu Hazim juga
mengatakan,” Kenikmatan Allah dalam bentuk menghindarkanku dari dunia lebih
utama daripada kenikmatan-Nya berupa pemberian-Nya dalam urusan dunia. Karena
aku melihat Allah Swt memberikan dunia kepada suatu kaum , tapi kemudian kaum
itu hancur.”( Siyar A’lam Nubala, 6/985)
Saudaraku yang di
rahmati Allah,
Mari kita
bersama-sama merenung, memahami, memaknai, berfikir dan mari kita perkuat iman
kita, kita dekatkan diri kita kepada Allah swt.
Mari kita ubah sikap kita, marilah kita berhijrah menuju kondisi yang
lebih baik lagi. Coba kita renungkan, berapa banyak waktu yang telah kita
gunakan untuk kepentingan duniawi dibandingkan kepentingan akhirat. Sungguh
mengena sekali apa yang dikatan oleh seorang tabi’in yang bernama Aun bin
Abdillah, “Sesungguhnya orang-orang
sebelum kami, mereka menjadikan dunia sebagai sisi dari kepentingan akhirat
mereka, sementara kalian menjadikan akhirat sebagai sisa dari kesibukan dunia
kalian.” (Sifatush Shafwah, 3/101)
Janganlah kita
melalaikan kepentingan diakhirat dan janganlah kita membeli dunia dengan
mengorbankan akhirat. Karena apabila kita membeli dunia ini dengan akhirat,
niscaya kita berada dalam sebuah bahaya
dan ancaman yang sangat besar. Walaupun dunia ini tidak ada artinya, janganlah
kita lari dari dunia, jangan kita meninggalkan dunia secara keseluruhan dan
kemudian membiarkannya dikuasai oleh orang-orang yang menjadikan nafsu sebagai
tuhan mereka sehingga mereka berbuat semau-mau mereka. Yang dimaksud dengan
meninggalkan dunia ialah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir dalam
hidup. Tidak menempatkan dunia di atas kepentingan akhirat. Tidak menyediakan
aktivitas di dunia yang bisa mengabaikan aktivitas akhirat.
Allah Swt
berfirman, “Dan usahakanlah apa yang telah di anugerahkan Allah kepadamu
(untuk kebahgian) di akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah berusaha berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Karena sesungguhnyaAllah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan. ( Q.S Al Qashash 77)
Dari ayat ini kita
dapat mengambil banyak pelajaran, salah satunya adalah kita tidak boleh
melupakan bagian kita di dunia, Allah Swt mengajurkan kita untuk seimbang
menjalani hidup ini, yaitu hendaknya kita menggunakan dunia ini sebagai
jembatan bagi kita untuk menuju akhirat kelak. Kita niatkan apa-apa yang kita
lakukan di dunia ini untuk Allah, mengharap ridho-Nya dan jalan menuju akhirat
kelak.
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami
segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami
kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka jahanam, dia akan
memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Q.S Al-Isra 18)
Yang dimaksud dalam ayat diatas adalah
orang-orang yang menginginkan dunia dengan segera, untuk dunia ia bekerja dan
berusaha, untuk dunia ia berharap, ia tidak mengharap pahala, ia tidak yakin
dengan adanya akhirat, ia tidak takut dengan hukuman Allah atas apa yang ia
kerjakan. (Tafsir Al Maraghi, 5/27) Jika Allah menghendaki, tentunya
Allah Swt akan memberikan apa yang mereka minta. Allah berikan kepada mereka
kelapangan hidup, rezeki dan kedudukan.
Kemudian Allah akan memasukan mereka ke neraka jahanam karena mereka
sedikit sekali yang besyukur dan amal buruk mereka. Namun jika Allah tidak
menghendaki hal itu, maka Allah pun tidak akan memberikannya. Tidak semua orang
mendapatkan apa yang mereka inginkan kecuali Allah menghendakinya.
Maka dari itu,
sungguh rugilah orang-orang yang menggunakan waktu dalam hidupnya hanya untuk
dunia saja, karena belum tentu ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan, namun ia sudah pasti akan mendapatkan
kesengsaraan yang tiada terkira.
Pilihan ada ditangan kita, kita sudah tau apa yang akan
kita dapatkan apabila kita memilih dunia
dan apa yang akan kita dapatkan jika kita memilih akhirat. Jangan buang waktu
kita hanya untuk mengejar dunia semata, akan tetapi manfaatkanlah waktu yang
masih kita miliki ini untuk menggapai akhirat dengan cara meniatkan seluruh
aktivitas kita sebagai jalan menuju akhirat kelak. Karena sesungguhnya
kemewahan-kemewahan yang ada di dunia ini hanyalah kemewahan yang palsu.
“Dan tidak lain kehidupan dunia itu hanyalah kemewahan yang palsu.” (Q.S Ali-Imran
185)
Ada sebuah kisah
yang diriwayatkan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Saw pernah berjalan
melalui pasar dan orang-orang mengikutinya. Kebetulan beliau melalui bangkai
anak kambing yang putus telinganya. Ditunjuknya kambing tersebut sambil
bersabda : “Siapa diantara kalian yang mau menerima kambing ini dengan harga
satu dirham?”
Orang-orang
menjawab : “Kami tidak ingin memilikinya”. Nabi bersabda : ”Apakah kalian mau
memilikinya (tanpa bayaran)?” Mereka menjawab : “Demi Allah, sekiranya ia
hidup pun kami tidak menyukainya, karena telinganya putus, apalagi sudah
menjadi bangkai begini, apa yang dapat kami perbuat?” Nabi Saw kemudian
bersabda : “Demi Allah, sesungguhnya dunia itu menurut pandangan Allah, lebih
hina dari pandanganmu terhadap bangkai ini”. (HR. Muslim yang bersumber dari
Jabir)
|
Sesuatu yang paling mirip dengan
dunia adalah bayang-bayang. Disangka memiliki hakikat yang tetap, padahal tidak
demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai. Dunia
ini pun sangat mirip dengan fatamorgana, orang yang kehausan menyangkanya
sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapati sesuatu
apapun. Justru yang ia dapati adalah Allah Swt dengan hisab-Nya, dan Allah Swt
sangat cepat hisab-Nya.
Ya Allah,
jadikanlah kami orang yang selalu mengutamakan kepentikan akhirat daripada
kepentingan dunia dan jangan biarkan kenikmatan-kenikmatan di dunia membuat
kami ingkar kepada-Mu. Amin
Bagaiamana kau
merasa bangga akan dunia yang sementara..
Bagaimanakah bila
semua hilang dan pergi...
Meninggalkan
dirimu..
Bagaimanakah bila
saatnya waktu terhenti tak kau sadari...
Masihkah ada jalan
bagimu untuk kembali mengulang ke masa lalu..
Dunia dipenuhi
dengan hiasan...
Semua dan segala
yang ada akan kembali pada-Nya..
Bila waktu tlah
memanggil.. teman sejati hanyalah amakual..
Bila waktu tlah
terhenti.. teman sejati tinggalah sepi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar